Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
Riba merupakan perbuatan dosa besar dengan ijma’ Ulama, berdasarkan
al-Qur`ân, as-Sunnah. Dalil dari al-Qur`ân di antaranya adalah firman
Allâh Azza wa Jalla :
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Allâh menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. [al-Baqarah/2:275]
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya dari
riba dan memberitakan bahwa riba termasuk tujuh perbuatan yang
menghancurkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ
وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ
الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ
وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Apakah itu?” Beliau n
menjawab, “Syirik kepada
Allâh, sihir, membunuh jiwa yang
Allâh
haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim,
berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap
wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang
bersih dari zina”. [HR. al-Bukhâri, no. 3456; Muslim, no. 2669]
Para Ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum Muslimin telah sepakat akan
haramnya riba. Riba itu termasuk kabâir (dosa-dosa besar). Ada yang
mengatakan bahwa riba diharamkan dalam semua syari’at (Nabi-Nabi), di
antara yang menyatakannya adalah al-Mawardi”. [al-Majmû’ Syarhul
Muhadzdzab, 9/391]
Syaikhul Islam oleh
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Melakukan riba hukumnya haram berdasarkan al-Qur`ân, as-Sunnah, dan ijma’.” [Majmû’ al-Fatâwâ, 29/391]
MAKNA DAN MACAM-MACAM RIBA
Secara lughah (bahasa) riba artinya tambahan, sedangkan menurut istilah
syara’ (agama), para fuqahâ’ (ahli fiqih) memberikan ta’rîf (difinisi)
yang berbeda-beda kalimatnya, namun maknanya berdekatan.
al-Hanafiyyah menyatakan riba adalah kelebihan yang tidak ada
penggantinya (imbalannya) menurut standar syar’i, yang disyaratkan untuk
salah satu dari dua orang yang melakukan akad penukaran (harta).
[al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/50]
Syâfi’iyyah menyatakan riba adalah akad untuk mendapatkan ganti tertentu
yang tidak diketahui persamaannya menurut standar syar’i (agama Islam)
pada waktu perjanjian, atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang
ditukar, atau salah satunya. [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah,
22/50]
Hanabilah menyatakan riba adalah perbedaan kelebihan di dalam
perkara-perkara, mengakhirkan di dalam perkara-perkara, pada
perkara-perkara khusus yang yang ada keterangan larangan riba dari
syara’ (agama Islam), dengan nash (keterangan tegas) di dalam
sebagiannya, dan qiyas pada yang lainnya. [al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah
al-Kuwaitiyyah, 22/50]
Definisi riba ini akan lebih jelas jika kita mengetahui macam-macam riba, sebagai berikut:
1. Riba an-Nasî'ah (Riba Karena Mengakhirkan Tempo)
Yaitu: tambahan nilai hutang sebagai imbalan dari tempo yang diundurkan.
Dinamakan riba an-nasî'ah (mengakhirkan), karena tambahan ini sebagai
imbalan dari tempo hutang yang diundurkan. Hutang tersebut bisa karena
penjualan barang atau hutang (uang).
Riba ini juga disebut riba al-Qur’an, karena diharamkan di dalam Al-Qur’an. Allâh berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ
الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴿٢٧٨﴾ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا
فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ
رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allâh
dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang
yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba)
maka ketahuilah bahwa
Allâh
dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan
tidak (pula) dianiaya. [al-Baqarah/2: 278-279]
Ayat ini merupakan nash yang tegas bahwa yang menjadi hak orang yang
berpiutang adalah pokok hartanya saja, tanpa tambahan. Dan tambahan dari
pokok harta itu disebut riba. [Lihat Taudhîhul Ahkâm min Bulûghil
Marâm, 4/6, karya
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam]
Jika tambahan itu atas kemauan dan inisiatif orang yang berhutang ketika
dia hendak melunasi hutangnya, tanpa disyaratkan maka sebagian ahli
fiqih membolehkan. Namun orang yang berhati-hati tidak mau menerima
tambahan tersebut karena khawatir itu termasuk pintu-pintu riba, wallahu
a’lam. [Lihat Fathul Bâri pada syarh hadits no: 3814]
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan larangan ini
dalam khutbah wada’ dan hadits-hadits lainnya. Sehingga kaum
Muslimin bersepakat tentang keharaman riba an-nasîah ini.
Riba ini juga disebut riba al-jahiliyyah, karena riba ini yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
Riba ini juga disebut riba jali (nyata) sebagaimana dikatakan oleh imam
Ibnul Qayyim dalam kitab I’lâmul Muwaqqi’in, 2/154. [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/57]
Riba ini juga disebut dengan riba dain/duyun (riba pada hutang), karena terjadi pada hutang piutang.
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang riba yang tidak diragukan
(keharamannya-pen), dia menjawab, “Riba itu adalah seseorang memiliki
piutang, lalu dia berkata kepada orang yang berhutang, “Engkau bayar
(sekarang) atau (pembayarannya ditunda tapi dengan) memberi tambahan
(riba)?” Jika dia tidak membayar, maka orang yang berhutang memberikan
tambahan harta (saat pembayaran), dan pemilik piutang memberikan
tambahan tempo. [I'lâmul Muwaqqi’in]
Imam Ibnul ‘Arabi al-Mâliki rahimahullah berkata, “Orang-orang
jahiliyyah dahulu biasa berniaga dan melakukan riba. Riba di kalangan
mereka telah terkenal. Yaitu seseorang menjual kepada orang lain dengan
hutang. Jika waktu pembayaran telah tiba, orang yang memberi hutang
berkata, “Engkau membayar atau memberi riba (tambahan)?” Yaitu: Engkau
memberikan tambahan hartaku, dan aku bersabar dengan waktu yang lain.
Maka Allâh Azza wa
Jalla mengharamkan riba, yaitu tambahan (di dalam hutang seperti di atas-pen). [Ahkâmul Qur’an, 1/241, karya Ibnul ‘Arabi]
Dengan penjelasan di atas kita mengetahui bahwa riba jahiliyyah yang dilarang dengan keras oleh
Allâh
dan RasulNya adalah tambahan nilai hutang sebagai imbalan dari tambahan
tempo yang diberikan, sementara tambahan tempo itu sendiri disebabkan
ketidakmampuannya membayar hutang pada waktunya. Jika demikian, maka
tambahan uang yang disyaratkan sejak awal terjadinya akad
hutang-piutang, walaupun tidak jatuh tempo, yang dilakukan oleh bank,
BMT, koperasi, dan lainnya, di zaman ini, adalah riba yang lebih buruk
dari riba jahiliyyah, walaupun mereka menyebut dengan istilah bunga.
2. Riba al-Fadhl (Riba Karena Kelebihan).
Yaitu riba dengan sebab adanya kelebihan pada barang-barang riba yang sejenis, saat ditukarkan.
Riba ini juga disebut riba an-naqd (kontan) sebagai kebalikan dari riba
an-nasî'ah. Juga dinamakan riba khafi (samar) sebagai kebalikan riba
jali (nyata). [al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 22/58]
Barang-barang riba ada enam menurut nash hadits, seperti di bawah ini:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ
وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ
وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ
اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ
Dari Abu Sa’id al-Khudri Rahiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas dengan emas, perak dengan
perak, burr (jenis gandum) dengan burr, sya’ir (jenis gandum) dengan
sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, harus sama
(timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan).
Barangsiapa menambah atau minta tambah berarti dia melakukan riba, yang
mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah hukumnya sama.” [HR.
Muslim, no. 4148]
BAHAYA RIBA DI DUNIA
Berbagai bahaya riba mengancam para pelakunya di dunia sebelum di akhirat, antara lain:
1. Laknat Bagi Pelaku Riba.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ
هُمْ سَوَاءٌ.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya
dan dua saksinya”, dan Beliau n bersabda, “Mereka itu sama.” [HR.
Muslim, no. 4177]
2. Perang Dari Allâh Azza Wa Jalla Dan RasulNya.
Barangsiapa nekat melakukan riba, padahal larangan sudah sampai
kepadanya, maka hendaklah dia bersiap mendapatkan serangan peperangan
dari
Allâh dan RasulNya. Siapa yang akan menang melawan Allâh? Allâh Azza wa
Jalla berfirman, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allâh
dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang
yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba)
maka ketahuilah bahwa
Allâh
dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari
pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan
tidak (pula) dianiaya. [Al-Baqarah/2: 278-279]
BAHAYA RIBA DI AKHIRAT
Selain bahaya di dunia, maka riba juga mengakibatkan bahaya mengerikan di akhirat, antara lain:
1. Bangkit Dari Kubur Dirasuki Setan.
Ini telah diberitakan oleh
Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân dan dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :
عَنْ عَوْفِ بن مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :"إِيَّايَ وَالذُّنُوبَ الَّتِي لا تُغْفَرُ:
الْغُلُولُ، فَمَنْ غَلَّ شَيْئًا أَتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَآكِلُ
الرِّبَا فَمَنْ أَكَلَ الرِّبَا بُعِثَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْنُونًا
يَتَخَبَّطُ", ثُمَّ قَرَأَ: "الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا
يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ
الْمَسِّ"
Dari ‘Auf bin
Malik,
dia berkata: RasûlullâhShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jauhilah dosa-dosa yang tidak terampuni: ghulul (mengambil harta
rampasan perang sebelum dibagi; khianat; korupsi). Barangsiapa melakukan
ghulul terhadap sesuatu barang, dia akan membawanya pada hari kiamat.
Dan pemakan riba. Barangsiapa memakan riba akan dibangkitkan pada hari
kiamat dalam keadaan gila, berjalan sempoyongan." Kemudian Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (ayat yang artinya), “Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit
gila”. (al-Baqarah/2:275) [HR. Thabrani di dalam Mu’jamul Kabîr, no.
14537; al-Khatib dalam at-Târîkh. Dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam
Silsilah ash-Shahîhah, no. 3313 dan Shahîh at-Targhîb, no. 1862]
2. Akan Berenang Di Sungai Darah.
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ
أَتَيَانِى ، فَأَخْرَجَانِى إِلَى أَرْضٍ مُقَدَّسَةٍ ، فَانْطَلَقْنَا
حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ ، وَعَلَى
وَسَطِ النَّهْرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ
الَّذِى فِى النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى
الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِى فِيهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ ، فَجَعَلَ كُلَّمَا
جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِى فِيهِ بِحَجَرٍ ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ ،
فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقَالَ الَّذِى رَأَيْتَهُ فِى النَّهَرِ آكِلُ
الرِّبَا
Dari Samurah bin
Jundub,
dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tadi malam
aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke
kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai
darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di
pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat
batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak
keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam
mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki
yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir
sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke
tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau
lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”. [HR. al-Bukhâri]
3. Nekat Melakukan Riba Padahal Sudah Sampai Lrangan, Diancam Dengan Neraka.
Allah Azza wa
Jalla berfirman :
ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ
وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Rabbnya,
lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)
kepada
Allâh.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [al-Baqarah/2:275]
Inilah berbagai ancaman mengerikan bagi pelaku riba. Alangkah baiknya
mereka bertaubat sebelum terlambat. Sesungguhnya nikmat maksiat hanya
sesaat, namun akan membawa celaka di dunia dan di akhirat. Hanya Allâh
Azza wa
Jalla tempat memohon pertolongan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1436H/2014M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]